BlueDark-VioletDarkEmeraldGoldenGrapefruitLight-BrownLimeMetallic-BlueOceanOliveOrangePinkRaspberrySky-BlueViolet

Kabar

SEWU TUMPENG

Ratusan kelompok warga Desa Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur, menggelar ritual tumpeng sewu dalam rangka menyambut bulan Dzulhijjah, Sabtu (29/10). Ritual ini sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa atas limpahan rezeki serta keselamatan. Termasuk untuk menghindari mara bahaya.

Ritual diawali dengan mengarak barong keliling desa yang disebut ider bumi. Dalam prosesi ini seluruh warga melangsungkan ritual inti di rumah masing-masing yaitu tumpeng sewu. Namun jangan dibayangkan ada gunungan nasi kuning dengan berbagai jenis lauk di sekelilingnya.

Justru yang tersaji adalah nasi putih di baskom dengan lauk ayam bakar dicampur parutan kelapa atau sambal urap. Doa lalu dipanjatkan sebagai ungkapan rasa syukur sebelum menyantap tumpeng sewu.

Selanjutnya warga menyantap tumpeng dengan duduk bersila di sepanjang sisi jalan. Menyantap hidangan di sepanjang sisi jalan pun cuma diterangi dengan obor.

Acara Berlanjut dengan aksi pangung  yang meyajikan Kuntul salah satu budaya osing dan juga Barong lancing, yang menarik dari pertunjukan ini adalah semua pertunjukan disajikan menarik oleh anak kecil yang segaja dididik untuk melestarikan budaya Osing.

Kota Banyuwangi

Patih Sidopekso tidak lagi mampu menahan diri, segera menikamkan kerisnya ke dada Sri Tanjung. Darah memercik dari tubuh Sri Tanjung dan mati seketika. Mayat Sri Tanjung segera diceburkan ke sungai dan sungai yang keruh itu berangsur-angsur menjadi jernih seperti kaca serta menyebarkan bau harum, bau wangi. Patih Sidopekso terhuyung-huyung, jatuh dan ia jadi linglung, tanpa ia sadari, ia menjerit "Banyu..... wangi........ . Banyu wangi.. .." Banyuwangi terlahir dari bukti cinta istri pada suaminya.

Kontak

Nama (diisi)

Email (diisi)

Subjek

Pesan